MARIO HALING

Inspirasi ku

MARIO HALING

Tentang Dia

MARIO HALING

Cerprn ku

MARIO HALING

Kisah cinta nya

TALK TO YOUR HEART - 1


Hidup bukan dimana kita pergi, melainkan dimana kita kembali.
Warna bukan apa yang kita genggam, melaikan apa yang kita lepaskan.


❇❇❇


Dia melangkah lebih cepat saat menyadari koridor semakin sepi, ini hari pertamanya pindah ke SMA Cakrawala, salah satu SMA favorit di Jakarta.

Sebelumnya dia bersekolah di bandung, tinggal dengan tante dan neneknya disana. Dia kembali ke Jakarta karena tantenya memutuskan untuk pindah keluar kota setelah ibunya meninggal, Ify melakukan hal yang sama karena tidak mungkin tinggal disana lagi.


"Ahelah, ini kelas gue dimana coba," dia celingukan di sepanjang koridor, dia sudah berputar-putar tapi kelasnya belum ketemu juga. rasanya seperti melewati jalanan yang sama kemudian berhenti di ujung bangunan yang sama pula. Ah, nyebelin! Gedung utama Cakrawala terlalu besar untuk diteliti satu-persatu. Bel masuk sudah berbunyi sejak tadi, sepanjang koridor sudah sepi, tidak ada siapapun yang bisa dia mintai tolong, apalagi bertanya.
"Kalo gini ceritanya, gue nyesel bilang ke Bu Ira buat nyari kelas sendiri," omelnya celingukan mencari nama kelas disetiap pintu yang dia lewati, berharap ada seseorang lewat atau petunjuk sekecil apapun. Namun, koridor ini sangat sepi, lapangan juga kosong, tamannya apalagi.

"Yaa Allah berikanlah hambamu ini kemudahan"


GDUGHH...
Aww...
Dia meringis mengusap keningnya yang baru saja membentur sesuatu, papan kecil hitam yang posisinya lebih rendah dari papan kelas yang lain. Dia menyipitkan mata, mengamati tulisan di papan itu.


[Kelas X-A1]


"Alhamdulillah," gumamnya lega. ruang kelas yang dicarinya seperti orang hilang akhirnya ketemu juga.


Dia mengayunkan tangan di depan mintu, mengetuknya pelan, "permisi..."


"Masuk..."


Dia melangkah masuk, sepertinya, pelajaran baru saja dimulai.


"Permisi Bu, maaf saya terlambat, tadi itu saya nyasar, Bu" jelasnya sopan.


"Oh, Iya tidak apa-apa, Saya Bu Winda, wali kelas kamu"

Ify tersenyum senang, sepertinya Bu Winda ini guru yang ramah, cantik, fashionable, dan memiliki wibawa yang tinggi, dia jadi tidak sabar memulai hari pertama sekolah bersama beliau.


"Baiklah anak-anak, hari ini kalian kedatangan teman baru, silakan memperkenalkan diri didepan kelas ya?"


Dia mengangguk, "Selamat pagi semua, perkenalkan nama saya Alyssa Saufika, biasa dipanggil Ify, saya pindahan dari bandung, salam kenal..."


Prokk...
Prokk...
Prook...

Tepuk tangan meriah menggema di dalam kelas, Ify tersenyum semakin lebar, kehadirannya ternyata disambut baik.


"Baiklah Ify, kalau begitu kamu duduk dibangku kosong sebelah sana yaa" suruh Bu Winda menunjuk bangku kosong kedua dari pojok kanan.

Disebelahnya ada seorang siswa lain yang duduk dengan muka tertelungkup diatas meja. Ify diam saja dan segera menggeser bangku itu untuk duduk.

Bunyi kursi berderit itu rupanya cukup menganggu dan membuat siswa laki-laki tadi bangun dari posisinya dan menatapnya binggung, "Lah, siapa lo? ngapain disini?" ujarnya datar, tampaknya laki-laki ini tidak suka kursi disebelahnya di tempati orang lain.


"Gu-gue Ify, K-Ka-kata Bu Winda gue disuruh duduk disini" jawabnya terbata.

Ify takut-takut.


"Hah...!"


Ify terkejut bukan main saat tiba-tiba siswa di sampingnya bangkit sambil melepas headset dari telinganya, 'jadi daritadi nih anak malah dnegerin musik?'


"Maaf, Bu. tapi bangku ini tidak kosong, bagaimana mungkin Ibu meminta orang lain untuk duduk disini?" Intrupsinya keberatan dengan wajah datar seperti biasa.


"Saya rasa bangku itu kosong, Rio"


"Tapi, Bu. ini bangku Alvin" sanggahnya lagi, dia tahu keputusan Bu Winda tidak mudah untuk dibantah.


"Alvin biar jadi urusan saya!" Balas beliau santai.


"Taa... tapi Bu?" Rio masih tidak terima. enak saja, istana megahnya dengan Alvin mau diserahkan orang lain, tidak bisa begitu.


"Tapi apa? memangnya kamu keberatan duduk sama Ify?"


"Yah.. tidak juga sih, Bu. tapi kan, saya sudah duduk sama Alvin dari jaman kapan juga!" Rio tidak mau kalah.


"Saya Wali Kelas kamu Rio, Saya punya hak mengatur tempat duduk kamu dan siswa yang lain, Lagipula Kamu kalau disatukan sama Alvin bisanya bikin ribut terus dikelas saya"


"Yaahh Bu, tapi kan ..."


"Kamu memilih duduk atau belajar di luar!" Tutup beliau yang seketika membuat siapapun tidak kuasa membantah.


"Okee deh, Bu. Saya nyerah." akhirnya, Rio melambaikan tangan ke kamera. ah ralat, melambaikannya keudara lalu kembali duduk dengan kesal.

Ify menelan ludah, sepertinya cowok bernama Rio ini mengancam ketentramannya dimasa depan.


"Ify, Ayo duduk, mau sampai kapan kamu berdiri disitu?" tanya Bu Winda lembut seperti pertama kali mereka berbicara, berbanding terbalik dengan apa yang baru saja dia lihat.


"Bu, sepertinya lebih baik saya duduk dibelakang saja deh, masih kosong kok" katanya mencari garis tengah. Malas memulai masalah disekolah baru.


"Alyssa, saya memerintahkan kamu untuk duduk disamping Rio. Jadi jangan membantah!" Lanjut beliau telak. Ify terlonjak dan tanpa berkata apa-apa dia lansung duduk.


"Gila, padahal kelihatannya ramah banget, ternyata ganas juga" dumelnya sambil mengeluarkan buku tulis dan pensil.


Rio tersenyum tipis melirik gadis itu, "Emang susah ngebantah Bu WInda mah, Macan berbulu Kucing. baru ketemu aja kelihatannya baik, tapi ya gitu, lo liat sendiri ganasnya beliau kayak apa!"


"Emang Bu Winda itu galak banget ya?"


"Nggak kok, Singa aja takut sama dia."


"Hah? serem amat!" Ceplos Ify ngeri


"Ehmm, Masih sereman gue sih kayaknya" Rio senyum-senyum sendiri melihat muka kaget Ify.


"Huuu... aneh Lo!"


"Waah... Lo orang ke 10.999 yang bilang gue aneh" sahutnya enteng. "Oiya, kita belom kenalan nih, gue Mario. panggil Rio aja" lanjut Rio sambil mengulurkan tangannya dihadapan Ify.


"Gue Alyssa, panggil Ify aja" balas Ify membalas jabatan Rio ramah.

Detik itu juga, dia berspekulasi bahwa cowok ini ternyata baik dan welcome padanya.


❇❇❇

Selang berapa menit kemudian pintu kelas kembali terbuka, menampakkan dua siswa yang datang bersamaan dengan nafas terengah hebat.


"Maaf Bu, saya terlambat..."ujar keduanya nyaris bersamaan


"Kenapa kalian terlambat lagi? Alvin? Shilla?" Tanya Bu Winda sakartis. Dua muridnya ini sering sekali terlambat, sampai-sampai beliau binggung harus memberi hukuman apa.


"Mobil saya mogok, Bu" jawab Shilla melirik Alvin sangar.


"Kamu Vin?"


"Seperti biasa Bu, macet" jawab Alvin yang masih mengatur nafas.


"Kamu tidak punya alasan lain yang lebih kreatif, Alvin Jonathan" komentar Bu Winda galak. Beliau sudah bosan dengan kelakuan dan alasan yang selalu sama dari muridnya satu ini, sebelas-duabelaslah sama Rio.


"Maaf, tidak ada Bu"


"Baiklah, kalau begitu sebagai hukumannya, Kamu duduk sama Shilla dibelakang bangku Rio dan Ify" perintah Bu Winda.


"Hah!?" Pekik Alvin dan Shilla kompak, shock.


"Apa lagi?" tanya Bu Winda lagi dengan tatapan siap menerkam siapa saja.


"Saya nggak mau duduk sebangku sama dia Bu!" Alvin menatap Shilla yang masih berdiri disampingnya, baru sadar kalau ternyata mereka telat bersama, lagi.


"Saya juga Bu! Mimpi apa saya bisa duduk sebangku sama china glodok macam dia, ngeselin lagi" keukuh Shilla


"Saya tidak menerima bantahan Alvin, Shilla, silakan kalian duduk karena pelajaran akan dilanjutkan kembali" Putus Bu Winda.

seketika, nyali keduanya menciut melihat tatapan garabg Bu Winda. Alvin berjalan lebih dulu menuju bangku yang ditunjuk gurunya dan duduk disana.


"Ini mah bukan hukuman tapi siksaan batin," Bisik Alvin setengah hati. lagipula Bu Winda tuh maunya apa sih? kenapa bisa beliau memintanya duduk satu bangku dengan cewek freak yang sudah lama menjadi musuh terberatnya dikelas ini.


"Sabar Vin, gue juga tadi abis disemprot Bu Winda!" hibur Rio sekenanya, yaaah mau bagaimana lagi.


"Tapi kali ini parah man, masa cuma gara-gara telat aja gue harus duduk sama nenek lampir? nggak banget kan!"


"Heh, lo fikir gue kesenengan gitu duduk sebangku sama lo? Ngimpi!" Balas Shilla sakartis.


"Elaaah, gue mah tahu kalian itu MTM, Malu Tapi Mau, kemakan omongan sendiri tahu rasa!" kata Rio asal yang lansung mendapatkan deathglare gratis dari dua orang yang duduk dibelakangnya. Rio meringis sambil cengar-cengir melihat ekspresi Shilla, baru mau angkat bicara, Bu Winda gesit melempar meja mereka dengan spidol yang membuat ruangan X-A1 seketika hening dan kembali focus pada pelajaran.
 
❇❇❇


"Minggir lo, gue mau ke kantin," kata shilla galak pada Alvin yang masih sibuk dengan buku catatannya.


"Bisa sopan sedikit nggak, Shill?" balas alvin yang masih belum berpaling dari bukunya sedikitpun.


"Nggak!"

Huh, alvin menghela nafas kasar lalu beranjak dari mejanya.
'percuma ngomong sama cewek yang nggak tau sopan santun' pikirnya frustasi.


"Eh, shill. Mending lo ajak Ify juga deh kekantin, dia kan anak baru" Pinta Rio yang daritadi diam melihat pertengkaran dua temannya


"Yaudah deh, Yuk Fy... Gue nggak nanggung kalo lo setres kelamaan disini" kata shilla menggandeng tangan Ify keluar kelas. Ify diam saja mengikuti langkah Shilla.


Setelah Shilla keluar, Alvin duduk disebelah Rio dan melanjutkan kegiatannya yang tertunda, menyalin catatan.


"Kesel banget gue sama tuh cewek satu! ada aja gitu tingkahnya!" curhat Alvin.


"Yaudah sih, gitu-gitu juga temen kita tahu, Sabar aja kenapa sih!"


"Sabar pala lo, lagian lo sih pake acara ninggalin gue, hukuman Bu Winda begini amat jadinya," Keluh alvin frustasi.


"Abis lo tidur ngebo sih, gue kan takut ketinggalan Bis, Vin" balas Rio sambil memainkan ponselnya.


"Alesan! mana tadi macetnya gak ketulungan lagi"


"Dasarannya hari ini lo apes aja kali" celetuk Rio seenaknya.


"Huuu... Rese lo"


❇❇❇


"Lo pulang sama siapa Fy?" tanya Shilla setelah bel pulang berbunyi, Rio dan Alvin baru saja dijemput Agni dan diajak kelapangan outdoor untuk persiapan latihan rutin tim basket Cakrawala.


"Nunggu jemputan nih, kan gue belom tahu jalanan disini"


"Gue juga, gimana kalo nunggunya sambil nonton basket aja?" tawar Shilla daripada bosan dikelas.


"Boleh deh"



Mereka berjalan ke lapangan outdoor yang berada di ujung lorong. Ify menikmati perjalanannya sambil sesekali melihat-lihat lingkungan sekolah barunya yang ternyata luar biasa luas. kalau saja dia sendirian, sudah bisa dipastikan dia akan kebingungan seperti pagi tadi. mereka melewati lorong kelas XI-IPA 2, entah karena terburu-buru atau apa, tahu-tahu ada siswa lain yang keluar dari kelas sambil berlari hingga menabrak bahu Ify.

'BRRUUKKKKK' keduanya terjatuh,


"Aww" Rintih Ify, pinggangnya agak ngilu.


"Adduh, Sorry ya, gue nggak sengaja. Gue buru-buru" sesal siswa yang menabraknya, Ify menoleh, ternyata cowok.


"Iya, nggak apa-apa kok" balas Ify masih meringis, mencoba bangun dari posisinya.


"Ya ampun Yel, kamu nggak apa-apa?" disaat bersamaan ada cewek yang tergopoh-gopoh menghampiri laki-laki itu, membantunya bangun.


"Nggak apa-apa kok Vi, makasih ya" balas cowok itu.


"Sekali lagi maaf ya, Gue beneran nggak sengaja" kata cowok itu lagi, kali ini sambil mengulurkan tangan membantu Ify berdiri.


"Iyaa... nggak apa-apa kok, santai aja" Ify tersenyum manis.

Cowok itu ikut tersenyum dan membuat Ify malu sendiri, "Sekali lagi, makasih yaa..." kata cowok itu lagi agak gantung karena kesulitan membaca name tag gadis di hadapannya ini.


"Ify, nama gue Ify" sela Ify mengerti.


"Yel, Buruan! Pak Joe udah nungguin lo dilapangan" ada suara lain yang memanggil, cowok ganteng lagi.


"Iya udah kalo gitu Fy, gue udah harus pergi nih, sekali lagi maaf ya" pamit Gabriel menyusul Cakka yang sudah lari lebih dulu. Ify melihat kepergian mereka dengan mata bersinar.


"Fy, Are you okay?" Shilla jadi takut melihat Ify senyum-senyum sendiri.


"Eh, Emm... Iya nggak apa-apa kok" Ify nyengir. "Oiya Shil, barusan itu siapa sih?" tanyanya ingin tahu.


"Oh, Maksud Lo kak Gabriel, dia ketua Osis Cakrawala, kalau yang cewek tadi Kak Sivia. Nah yang nyusulin tadi namanya Kak Cakka" jelas Shilla, Yaa mau bagaimana lagi? dia tidak begitu kenal apalagi dekat dengan kakak-kakak senior seperti mereka.


"Keliatannya dia baik ya, Shill? Ketua Osis, ganteng lagi"


"Setahu gue Kak Iyel emang baik sih, ramah, pendiam juga. emangnya kenapa? jangan bilang Lo naksir sama dia?" tebak Shilla asal.


"Hah...? enggak kok, Emm... Gue penasaran aja" Ify gelagapan sendiri. 

"Yaudah deh, ke lapangan aja yuk"

"Ayuk..."


Sesampainya disana, suasananya sudah ramai sekali, lebih dari setengah persen siswa siswi cakrawala berada disini.

Ify mengedarkan pandangannya ke setiap sudut lapangan, lagi-lagi dia menemukan Gabriel. "Eh Shill, Dia anak basket juga?" katanya


"Siapa?"


"Gabriel lah!"


"Oh, Iya. Gue denger sih katanya dia jago basket juga" jawab Shilla.


Ify menatap Intens Gabriel. Entah kenapa Dia suka sekali melihat wajah cowok itu, sudah tampan, ramah, baik, Ketua Osis, jago basket, terkenal, kurang apa lagi coba!




Priiiit...

Peluit pertama berbunyi, mereka sedang bermain three and three. Rio, Cakka dan Obiet di tim Merah. Gabriel, Alvin dan Irsyad di tim Biru.

Ify menikmati permainan mereka, meskipun dia tidak tahu banyak soal basket, tapi melihat mereka bermain seperti itu dia jadi tertarik untuk tahu, kekuatan yang seimbang, sportif dan tidak membosankan untuk dinikmati.

30 menit kemudian, Permainan Tim merah vs Tim biru berhenti, digantikan Tim selanjutnya. para pemain istirahat ditepi lapangan.


"Permainan lo keren, Bro!" Alvin merangkul Rio untuk menepi


"Lo juga"


"Yey! keren banget mas Bro..." Agni melempar dua botol minuman dan handuk, kemudian duduk diantara Rio dan Alvin.


"Menurut lo, gue tadi mainnya bagus nggak Ag?" tanya Alvin sembari mengelap keringatnya dengan handuk.


"Bagus kok Vin,"


"Tapi gue ngerasa kurang greget tahu Ag"


"Itu sih lo kurang PD, aja. Iya nggak Yo?" jawab Agni senang seraya menoleh ke Rio untuk meminta pembelaan tapi yang dipanggil malah menatap kearah lain.


"Yo," Agni menoleh saat tak mendengar respon apapun. Dilihatnya Rio sedang memandang kearah lain dengan tatapan yang sulit diartikan. Agni dan Alvin mengikuti arah pandang Rio untuk menemukan jawabannya. terang saja, Rio sedang menatap Gabriel yang sibuk bercanda dengan gadis cantik diujung sana, Sivia. mereka kelihatan sangat dekat, Gabriel tampak menatap mesra Sivia yang membuat gadis itu tidak berhenti tersenyum. bagaimana Rio tidak goyah melihat mereka berduaan begitu, apalagi mereka tahu Rio suka sama Sivia sejak mereka masih kecil dulu.


"Betapa sakitnyaaaa... betapa perihnya hatiku..." Alvin bernyanyi keras-keras mengacaukan perhatian Rio, Rio menoleh pada Alvin dan Agni dengan wajah sangar.


"Niat banget sih!" dumelnya sebal.


"Duileh, Kesindir nih yee..." goda Alvin sengaja dengan wajah tanpa dosa yang membuat Rio semakin sebal.


"Huuh, Nggak usah dibahas deh!" Rio menengguk minumannya, berharap air itu mampu mendinginkan hati dan pikiran yang berasap.


"Lo sih, kan dari dulu gue udah bilang tembak Yo, tembak! tapi lo lama," tambah Alvin belum puas.



"Ya udah sih, keliatan juga Sivia sukanya sama siapa" pasrah Rio masih menatap Gabriel dan Sivia.


"Kayak lagunya Ungu, yaaa... Cinta dalam Hati" sambung Agni berhadiah jitakan maut dari korbannya.


"Belom ngerasain sih lo!"


"Biarin, Wlee... Eh, Vin ada Shilla tuh" Agni gantian menggoda Alvin begitu melihat Shilla lewat tidak jauh dari mereka.

Pluuk...
 
Alvin melempar botol kosong kearah Agni.


"Apaan sih?" Sela agni


"Menurut Lo" sewot alvin



PRIIIIIITTTT...

PRIIIT...

PRITTTT...

Pelatih basket Cakrawala, Pak Joe memberi Intruksi pada semua pemain untuk berkumpul, Rio dan Alvin berlari ketengah lapangan disusul Gabriel dan teman-teman yang lain.


"Lansung saja, Saya sudah melihat dan menilai permainan kalian. Semuanya sudah bagus, teknik dan penguasaan bola juga sudah tepat, pertahankan terus, oke?"


"Siap, Laksanakan"


"Bagus. kalau begitu sekarang Rio dan Gabriel akan bermain One and One demi menentukan formasi tim, siap?" keduanya mengangguk.

priiiit...


Permainan One and One dimulai.

"RIO... RIO... RIO..."


"IYEL... IYEL... IYEL..."

Riuh, sorak-sorai suporter menyebut nama jagoan mereka membuat permainan menjadi semakin meriah, bagaimana tidak? Dua pemain basket yang sedang bertanding kali ini bukan lawan sembarangan, keduanya memiliki kemampuan dan refleks penyerangan yang bagus. keduanya sama-sama jago, luwes, dan pintar mengambil peluang. jangan lupakan kepiawaiannya memanfaatkan strategi dadakan dan serangan beruntun yang bisa membuat lawan kalah telak dengan cepat.

Kini, Gabriel menguasai bola, melakukan operan pendek untuk mengumpulkan poin, Rio berusaha mangambil alih bola, tidak begitu buruk, hanya dengan beberapa gocekan ringan Rio bisa dengan mudah menguasai bola.

gantian, Rio yang menguasai bola, berusaha mencari celah untuk mencetak angka sedangkan gabriel membayanginya dari belakang, bersiap mengambil alih bola kapanpun ada waktu.


"Permainan lo tambah bagus," puji Gabriel pada Rio yang masih mendrible bola.


"Makasih, tapi gue nggak gila pujian" Rio melewati Gabriel begitu saja dan cepat mengarahkan bola ke dalam ring, tembakan three point, shoot dan ...


"Masuk..."

Prriiiiittt

Peluit panjang membuat tembakan tadi menjadi akhir pertandingan kali ini, Rio menang tipis dari Gabriel dengan score 18-16.


"Lo hebat, Yo. Selamat ya" Gabriel mengulurkan tangannya untuk bersalaman


"Gue nggak bakal kalah sama lo gitu aja!" balas Rio meninggalkan lapangan tanpa membalas uluran tangan itu. 

Gabriel menghembuskan nafas panjang, "Ternyata... Lo masih benci banget sama gue ya, yo" lirihnya seraya berjalan ketepi lapangan.

❇❇❇


"Jadi, setelah permaianan tadi, Saya semakin mantap ingin kalian berdua bermain dalam satu tim. sanggup?" Pinta pak Joe to the point setelah permaian berakhir.


"Bi--"


"Nggak bisa, Pak!" intrupsi Rio cepat.


Gabriel bungkam, baru saja dia hendak menyanggupi permintaan itu saat suaranya terputus oleh jawaban lantang Rio yang tahu-tahu berdiri dibelakangnya.


"Kenapa tidak bisa, Rio?"


"Karena kita tidak cocok, Pak. tidak akan pernah cocok" kata Rio lagi, nadanya agak keras.


"Tapi menurut bapak kalian cocok..."


"Pokoknya, Saya tidak akan pernah bisa dan tidak akan mau satu tim sama dia, pak" Rio tetap keukuh mempertahankan pendapatnya.


"Kalau kamu, Yel? Kenapa daritadi diam aja?" Pak Joe mengalihkan perhatian pada Gabriel.


"Hmm... kalau saya sih, ..." Gabriel melirik Rio sebelum melanjutkan kalimatnya, ada tatapan penuh kebencian disana. "saya bisa aja, Pak. Tapi kalau pihak kedua tidak berkenan ya, mau bagaimana lagi. saya serahkan semua keputusannya ditangan Bapak" pasrah Gabriel.


"Ya sudah, besok saya akan diskusikan ini dengan yang lain, kalian boleh pulang..."


Rio melangkahkan kakinya lebar-lebar, berusaha membuat jarak dengan Gabriel yang terus berusaha menyamakan langkah dengannya, mengejar lalu menghadangnya dengan susah payah.


"Tunggu, Yo! kita harus ngomong,"


"Minggir lo"


"Kenapa sih? Apa yang bikin lo jadi kayak gini sama gue?"


"Banyak"


"Kalau gitu bilang, dong. gue butuh alesan, yo! gue butuh penjelasan kenapa lo bisa sebenci ini sama gue!"


"Pikirin aja sendiri!" Rio berjalan menjauh.

Gabriel menarik lengannya untuk berhenti. "Tapi ini udah 3 tahun, Yo! gue nggak bisa kayak gini terus"


"Gue n-g-g-a-k peduli!" Rio menepis kasar tangan Gabriel hingga membuatnya terdorong kebelakang.



Sivia yang melihat kejadian itu berlari menghampiri mereka, membantu Gabriel bangun. "Kamu nih apa-apaan sih? nggak bisa banget diajak ngomong. Kelewatan banget sih!"


"Terus, terus aja, belain aja dia terus. Emang di mata kamu aku nggak ada benernya dibanding dia!" Rio melangkah pergi tanpa menoleh, menyisakan Gabriel yang menatap miris kepergian orang itu, kecewa akan keadaan yang belum juga berubah.


❇❇❇


Ify melangkah ringan menaiki tangga, senyumnya merekah cerah mengingat pertemuannya dengan Gabriel di sekolah tadi. Sepanjang perjalanan pulang dia masih dibayang-bayangi pertemuan mengesankan dengan ketua osis Cakra yang jago main basket, ganteng, dan ramah itu.


BLUKK...


Bayangan indah tentang Gabriel seketika buyar saat tiba-tiba ada benda empuk yang melayang tepat di wajahnya, dia menatap pintu kamar adiknya yang terbuka. Deva mematung di depan pintu, seketika aura-aura menakutkan dalam diri sang kakak terlihat.


"DEEVAAA... !" teriak Ify kencang


BRAAKK...


"Woy setan bali, buka pintunya! gue harus bikin peritungan sama Lo" marah Ify dari luar.


"Bukan gue kak yang ngelempar tuh bantal, Ray tuh! Suueer deh! bukan gue"


"Bodo amat, buka nggak pintunya!"


"Ogah, Gue masih pengen hidup dengan layak" balas Deva membuat Ify semakin kesal.


"Awas Lo, tunggu pembalasan gue!" Ify meninggalkan kamar Deva menuju kamarnya.


Mendengar langkah kaki menjauh, Deva dan Ray mendesah lega.

"Lo sih Ray, hampir aja kita mati muda" Deva bersandar dibalik pintu.


"Lah, siapa suruh lo mau kabur terus buka pintu tadi? lo sendiri ini!" bela Ray duduk dikasur Deva.


"Gue jamin lo nggak bisa keluar dari sini dengan selamat" kata Deva sok dramatis


"Hamasah! sadis banget dong Kak Ify" kata Ray panik


"Gue tersiksa lahir batin tiap hari sama dia"


"Ya Tuhan... Gue belom mau temenan sama malaikat kali, Dev. lo cari cara dong buat selametin gue"


"Kak Ify Cuma jinak sama cowok Cakep, Ray!"


"Lah, Lo nggak sadar apa kalo gue itu cakep" kata Ray menunjuk dirinya sendiri.


"Yaaah, mana mau Kak Ify sama bocah"


Ray menggaruk kepalanya yang tidak gatal, binggung harus melakukan apa. 'cowok cakep, cowok cakep, hmmm' rapalya dalam hati.


"AHAAA...! gue tahu siapa cowok ganteng yang bisa nyelametin gue, Dev" kata Ray bangga dengan idenya sendiri.


"Siapa ndrong?" Deva penasaran. Ray membisikkan sesuatu yang lansung diangguki Deva, mereka berdua mulai memperlihatkan cengiran aneh khas keduanya saat mendapatkan ide brilliant.


❇❇❇


Ify duduk dimeja makan dengan emosi terpendam kepada Deva dan Ray, Dia bertekad akan membalas dua kurcaci itu diwaktu yang tepat.

"Tunggu aja pembalasan gue bocah edan!" katanya sakartis


"Kamu kenapa sih, Fy?" tanya bu Gina yang tahu-tahu sudah ada dihadapannya.


"Mau bikin genjatan senjata sama bocah edan dirumah ini, mah!"


"Bocah edan? Siapa?" tanya Mamanya lagi


"Depaa sama Ray lah, Ma! Siapa lagi...!"


Tiba-tiba Hape Ify yang ada dikamarnya berbunyi, buru-buru dia berlari kekamar, dan lagi pintu kamar Deva terbuka dengan seorang cowok berjalan keluar. Ify berusaha mengerem langkahnya tapi gagal.

Bruukk...


Ify menabrak orang itu, keduanya jatuh terduduk. Ray dan Deva yang masih didalam kamar cengo melihatnya.


"Arrgh" Rintih orang yang ditabrak Ify sambil memegang kepalanya.


"Duhh," keluh Ify berdiri sambil memegangi punggungnya yang nyeri sana-sini.


"Devaaaaa.... Gondrong, Lo berdua nggak bisa ya nggak bikin masalah hah!" Teriaknya marah sesekali meringis kesakitan.


"Buu... Bukan kita Kak!" Jawab Deva dan Ray gugup.


"Terus SIAPA Hah? Emangnya ada berapa bocah aneh disini!" Ify masih menatap Deva dan Ray yang katakutan.



"Ituuu... Ituu..." Deva menunjuk seseorag lagi yang masih tergeletak dilantai. shock atas kejadian jatuh tadi.


"Hmmm... Sorry ya, gue nggak sengaja" kata orang itu yang masih berusaha mengontrol dirinya membelakangi Ify. Ify yang terlanjur kesal marah-marah lagi


"Heh, Bocah! Lo gak punya mata ya!" kata Ify galak.


"Maaf, gue beneran nggak sengaja" orang itu berdiri lalu memutar wajah menghadap kearah ify, seketika keduanya terdiam.


"Loh, Ify" kata orang itu yang ternyata...


"Kak Gabriel?" Ify Spechless


"Kedua kalinya ya, sorry, Gue beneran nggak sengaja" ulang Iyel


"KALIAN SALING KENAL?" tanya Ray dan Deva kompak. Keduanya mengangguk.


"Lo ngapain disini Kak?"


"Jemput adek gue"


"Ray?" tanya Ify lagi, Gabriel mengangguk. Ify menatap Ray dan Gabriel bergantian.


"Kok bisa sih!" Ify memandang keduanya heran.


"Apanya?" Gabriel menatap Ify meminta penjelasan.


"Yaa... aneh aja, Kak gabriel itu kan Ketua Osis, jago basket, ganteng, kalem, baik lagi. Sementara Ray, udah gondrong, Rese, biang rusuh. gimana bisa kalian sodaraan" ceplos Ify sekenanya membuat Ray menatap mereka berdua tidak suka.


"Yee... suka-suka gue dong, rese Lo kak!" kata Ray ngambek lalu berjalan menuruni tangga meninggalkan Gabriel.


"Gue balik, bli!"


"Yaudah. Fy, Dev, Kakak pulang dulu yaa? Ray ngambek tuh, sekali lagi sorry ya, Fy" pamit Gabriel buru-buru turun menyusul Ray. Ify masih bengong, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Maaf nih Kak, Kalo menurut gue Lo udah keterlaluan ngomong kek tadi ke Ray, Gue masuk dulu!" Pamit deva menutup pintu kamarnya.


BRAAK...


Ify melanjutkan langkahnya yang tertunda, mengambil hape dikamar sambil memikirkan ucapan Deva barusan.


❇❇❇

Gabriel duduk dibangku kemudi dengan Ray disampingnya. sepanjang jalanan Ray betah diam, tidak mengomel atau mengomentari isi mobil Kakaknya seperti biasa.


"Udahlah, Ray! Omongan Ify tadi nggak usah di masukin hati" Gabriel menepuk pundak Ray pelan, menyadarkan Adiknya yang dari tadi menunduk.


"Kak Ify bukan orang pertama yang ngomong gitu, emang keliatan banget ya perbedaan lo sama gue?"


"Yaudahlah, gue mah ngga peduli orang mau ngomong apa. Buat gue lo tetep adek gue, ngerti kan?" jelas Gabriel menenangkan.


"Gue ngerasa nggak pantes jadi adek lo," Ray menghela nafas berat "Gue malu kak, Gue malu dilihatin orang sebagai adek lo. Gue nggak pinter, Gue nggak keren, apalagi berprestasi. Gue beda sama Lo! Gue juga beda sama adek lo satu lagi, Gueee... Guu... Gueee" Ray tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. 

Gabriel menepikan mobilnya lalu merangkul Ray memberikan ketenangan.

"Gue tahu, Kalian memang beda. Tapi gue sayang kalian berdua. Buat gue kalian seperti tangan kanan dan kiri yang selalu gue butuhin dan punya fungsinya sendiri, Please... jangan pernah ngomong kaya gini lagi! biarin orang menilai hubungan kita kaya apa, gue udah nggak peduli Ray, yang penting Lo selalu ada disamping gue, Gue Cuma punya lo sekarang, Lo ngerti kan?" Gabriel memberi pengertian sederhana untuk mengembalikan semangat Ray yang hilang.


Ray mengangguk pelan, mengerti apa yang dijelaskan Gabriel, segera dia menghapus airmatanya dan memasang senyuman lebar.

"Thanks My Big Brother," Balas Ray, Gabriel tersenyum sambil mengacak-ngacak rambut gondrong Ray. Setelah tenang, mereka melanjutkan perjalannya untuk pulang."Saudara tidak semata memandang hubungan darah. Sepanjang dia menyelamatkan kita dari keburukan, menjadikan kita lebih baik, maka disanalah persaudaraan mengikat jiwa"

Continue...

Salam sayang,

Miftastevadit


link wattpad : https://www.wattpad.com/story/41619344-talk-to-your-heart